Minggu, 17 Juni 2012

Membangun Kembali Komunitas Muda


Membangun Kembali Komunitas Muda

Berada dalam suatu komunitas yang sepertinya semakin hari semakin lesu, memberikan dampak yang sangat signifikan, baik itu dari segi jumlah anggota yang ada, begitupun juga dengan kegairahan yang ada. Kesemuanya seperti sebuah blackhole yang menyedot habis bedna-benda yang ada di sekitarnya. Melihat setiap minggu, semakin banyak kursi kosong adalah peristiwa paling tragis yang harus saya hadapi. Namun, terus terang hal itu membuat saya intropeksi diri, saya tidak ingin menyalahkan siapapun. Tidak ada yang paling salah ataupun yang paling benar untuk hal ini. Beberapa orang sangat bekerja keras, sebagian cukup bekerja keras, sementara yang lain mungkin acuh tak acuh. Tidak ada yang salah kesemuanya, hanya persoalan hati nurani masing-masing dan kerinduan yang Tuhan tanamkan dalam benak mereka masing-masing. Saya sendiri terlibat di dalamnya, dan saya akui sejujur-jujurnya, “Aku belum maksimal”. Tanpa mengecilkan peran serta teman-teman yang lain, saya berpikir bahwa saya salah. Pagi ini saya berdoa, dan merenung, mengapa begitu susah membawa kembali komunitas yang dahulu dikatakan “berjaya”, untuk tetap dalam konsistensinya? Apa yang salah?

Terngiang sebuah motto, yang cukup sering digaungkan oleh seseorang, “Bukan soal benar atau salah, tetapi respon”. Ya respon! Bukan pembenaran diri sendiri, ataupun tuduhan yang seperti mempersalahkan orang lain, tapi respon. Bukan hanya respon dari sebuah permasalahan yang tampak menyeruak, tapi keseluruhan masalah yang ada. Saya mencoba membayangkan ketika saya melihat sebuah peta dengan menggunakan kaca pembesar, terus memandangi peta untuk menemukan tempat tujuan saya dengan menggunakan kaca pembesar membuat pandangan saya terbatas. Suatu saat mungkin saja saya menemukan tempat yang ingin saya tuju, di dalam peta tsb, namun mata saya menjadi begitu lelah dan tentu saja saya hanya akan menemukan 2 atau maksimal 3 rute jalan untuk menuju ke tempat tujuan, dari tempat di mana saya berada saat ini. Suatu waktu kita harus menyingkirkan ‘kaca pembesar’ untuk kita bisa melihat peta tersebut secara lebih ‘zoom out’. Bukan hanya agar mata kita tidak menjadi lelah, tetapi alternative rute jalan yang hendak kita pilih pun akan beragam.

“Peta” dan tempat tujuan berbicara mengenai keinginan Allah dalam suatu komunitas. Tuhan meletakkan gambaran dan destiny Nya, bagi keberlangsungan suatu komunitas yang berkenan dan menyenangkan hatiNya. Sementara kaca pembesar menggambarkan bagaimana ego pribadi masing-masing yang masih timbul, mencoba merealisasikan keinginan diri sendiri, padahal itu adalah komunitas milik Allah. Hal itu seringkali hanya membuat kita menjadi lelah, dan bukan tidak mungkin juga menjadi stagnan ketika tidak berhasil menemukan tujuan yang dimaksud. Hanya dengan membuang ego dan melakukan “zoom out”, yang berarti merendahkan diri agar peta dapat dilihat secara bersama-sama (tim), tujuan dapat kita temukan dan mungkin saja malah banyak sekali alternative jalan yang bisa kita ambil, pada poin itu kita temukan “kreatifitas”.

Kira-kira seperti itu pemikiran yang saya dapat pagi ini, mengalir begitu saja, dan seperti judul yang saya tuliskan di atas, mengenai membangun kembali, sebelum menulis bahkan memikirkan judul itu, saya teringat kisah nabi Nehemia. Kisahnya memberi inspirasi lebih, untuk bukan hanya meratapi reruntuhan yang ada, tapi segera bangkit dan buat strategi untuk Membangun Kembali. Menyadur dari buku “The Purpose Driven Life”, (Rick Warren, hari ke-38), tanpa bermaksud menggurui saya menemukan poin-poin menarik yang bisa kita aplikasikan bersama untuk membangun kembali, yaa its time to reborn!

1.     Berubahlah dari pola pikir yang berpusat pada diri sendiri ke pola pikir yang berpusat pada orang lain.
Berhenti berpikir seperti anak-anak, yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri; berpikirlah seperti orang dewasa.

2.     Berubah dari pola pikir lokal ke pola pikir global
Think BIGGER, and trust God will help

3.     Berhenti membahas dan terus berdiskusi, just do it!
Terlalu lama membahas dan berdiskusi, hanya memberi waktu untuk timbulnya alasan-alasan yang melemahkan (pessimistic)

4.     Berubah dari pola pikir waktu sekarang ke pola pikir kekal
Jangan memikirkan yang terlihat sekarang, tetapi imani yang akan datang. The BEST is yet to COME!

5.     Berubah dari pola pikir mencari-cari alasan ke pola pikir mencari cara-cara kreatif
Daripada mencari alasan-alasan, ubah kebiasaan itu untuk mencari solusi dengan cara-cara baru dan unik, Pemimpin harus kreatif!

6.     Gunakan mammon yang tidak jujur, untuk mengikat persahabatan yang kekal (korbankan uang untuk bisa menjalin keakraban dengan orang lain)


# Tidak ada terlalu muda atau terlalu tua untuk menjadi agen2 kerajaan Allah
# Orang-orang mungkin menolak kasih kita atau pesan kita, tetapi mereka tidak berdaya terhadap doa-doa kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar