Membangun Kembali Komunitas Muda
Berada dalam suatu komunitas yang
sepertinya semakin hari semakin lesu, memberikan dampak yang sangat signifikan,
baik itu dari segi jumlah anggota yang ada, begitupun juga dengan kegairahan
yang ada. Kesemuanya seperti sebuah blackhole yang menyedot habis bedna-benda
yang ada di sekitarnya. Melihat setiap minggu, semakin banyak kursi kosong
adalah peristiwa paling tragis yang harus saya hadapi. Namun, terus terang hal
itu membuat saya intropeksi diri, saya tidak ingin menyalahkan siapapun. Tidak
ada yang paling salah ataupun yang paling benar untuk hal ini. Beberapa orang
sangat bekerja keras, sebagian cukup bekerja keras, sementara yang lain mungkin
acuh tak acuh. Tidak ada yang salah kesemuanya, hanya persoalan hati nurani
masing-masing dan kerinduan yang Tuhan tanamkan dalam benak mereka
masing-masing. Saya sendiri terlibat di dalamnya, dan saya akui
sejujur-jujurnya, “Aku belum maksimal”. Tanpa mengecilkan peran serta
teman-teman yang lain, saya berpikir bahwa saya salah. Pagi ini saya berdoa, dan merenung, mengapa begitu susah
membawa kembali komunitas yang dahulu dikatakan “berjaya”, untuk tetap dalam
konsistensinya? Apa yang salah?
Terngiang sebuah motto, yang cukup
sering digaungkan oleh seseorang, “Bukan
soal benar atau salah, tetapi respon”. Ya respon! Bukan pembenaran diri
sendiri, ataupun tuduhan yang seperti mempersalahkan orang lain, tapi respon.
Bukan hanya respon dari sebuah permasalahan yang tampak menyeruak, tapi
keseluruhan masalah yang ada. Saya mencoba membayangkan ketika saya melihat
sebuah peta dengan menggunakan kaca pembesar, terus memandangi peta untuk
menemukan tempat tujuan saya dengan menggunakan kaca pembesar membuat pandangan
saya terbatas. Suatu saat mungkin saja saya menemukan tempat yang ingin saya
tuju, di dalam peta tsb, namun mata saya menjadi begitu lelah dan tentu saja
saya hanya akan menemukan 2 atau maksimal 3 rute jalan untuk menuju ke tempat
tujuan, dari tempat di mana saya berada saat ini. Suatu waktu kita harus
menyingkirkan ‘kaca pembesar’ untuk kita bisa melihat peta tersebut secara
lebih ‘zoom out’. Bukan hanya agar mata kita tidak menjadi lelah, tetapi alternative
rute jalan yang hendak kita pilih pun akan beragam.
“Peta” dan tempat tujuan berbicara
mengenai keinginan Allah dalam suatu komunitas. Tuhan meletakkan gambaran dan destiny
Nya, bagi keberlangsungan suatu komunitas yang berkenan dan menyenangkan
hatiNya. Sementara kaca pembesar menggambarkan bagaimana ego pribadi
masing-masing yang masih timbul, mencoba merealisasikan keinginan diri sendiri,
padahal itu adalah komunitas milik Allah. Hal itu seringkali hanya membuat kita
menjadi lelah, dan bukan tidak mungkin juga menjadi stagnan ketika tidak
berhasil menemukan tujuan yang dimaksud. Hanya dengan membuang ego dan
melakukan “zoom out”, yang berarti merendahkan diri agar peta dapat dilihat
secara bersama-sama (tim), tujuan dapat kita temukan dan mungkin saja malah
banyak sekali alternative jalan yang bisa kita ambil, pada poin itu kita
temukan “kreatifitas”.
Kira-kira seperti itu
pemikiran yang saya dapat pagi ini, mengalir begitu saja, dan seperti judul
yang saya tuliskan di atas, mengenai membangun kembali, sebelum menulis
bahkan memikirkan judul itu, saya teringat kisah nabi Nehemia. Kisahnya memberi
inspirasi lebih, untuk bukan hanya meratapi reruntuhan yang ada, tapi segera
bangkit dan buat strategi untuk Membangun Kembali. Menyadur dari buku “The Purpose
Driven Life”, (Rick Warren, hari ke-38), tanpa bermaksud menggurui saya
menemukan poin-poin menarik yang bisa kita aplikasikan bersama untuk membangun
kembali, yaa its time to reborn!
1. Berubahlah dari pola pikir yang
berpusat pada diri sendiri ke pola pikir yang berpusat pada orang lain.
Berhenti berpikir seperti
anak-anak, yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri; berpikirlah seperti
orang dewasa.
2. Berubah dari pola pikir lokal ke pola
pikir global
Think BIGGER, and trust
God will help
3. Berhenti membahas dan terus
berdiskusi, just do it!
Terlalu lama membahas dan
berdiskusi, hanya memberi waktu untuk timbulnya alasan-alasan yang melemahkan (pessimistic)
4. Berubah dari pola pikir waktu
sekarang ke pola pikir kekal
Jangan memikirkan yang
terlihat sekarang, tetapi imani yang akan datang. The BEST is yet to COME!
5. Berubah dari pola pikir mencari-cari alasan
ke pola pikir mencari cara-cara kreatif
Daripada mencari
alasan-alasan, ubah kebiasaan itu untuk mencari solusi dengan cara-cara baru
dan unik, Pemimpin harus kreatif!
6. Gunakan mammon yang tidak jujur, untuk
mengikat persahabatan yang kekal (korbankan uang untuk bisa menjalin keakraban
dengan orang lain)
# Tidak ada terlalu muda atau terlalu
tua untuk menjadi agen2 kerajaan Allah
# Orang-orang mungkin menolak kasih
kita atau pesan kita, tetapi mereka tidak berdaya terhadap doa-doa kita