Senin, 11 Juli 2011

KEPRIBADIAN = = = = = > > > > > KESUKSESAN





Berbicara mengenai kesuksesan, tentu akan muncul pengertian dan pemahaman yang beragam dalam otak masing-masing orang. Semuanya tergantung dari sudut mana penilaian tersebut dilakukan. Tidak ada dasar yang dapat menjadi patokan untuk menilai arti dari sebuah kesuksesan. Terlalu dangkal rasanya jika kesuksesan itu hanya ditilik dari seberapa banyak uang yang dimiliki. Bagaimana dengan kesejahteraan mental dan rohani? Mempunyai uang yang banyak, tetapi harus setiap hari berada di bawah tekanan? Jika saya orang yang seperti itu, saya akan merasa iri kepada petani di desa yang mungkin kerjanya hanya mengurus sawah milik orang, tetapi ada senyuman di wajahnya. Menikmati makan siang di gubuk bambu di tengah sawah bersama istri dan anak-anaknya yang masih mengenakan seragam sekolahnya, tanda baru saja menyelesaikan belajarnya di sekolah hari itu. Hal tersebut dapat dikatakan sukses, ketika seluruh anggota keluarga dapat berkumpul bersama, menikmati makanan yang mungkin dikatakan mewah pun tidak, tetapi semuanya bersukacita, bercanda gurau, tanpa ada ketegangan atau hal-hal yang terlalu serius yang hanya akan menimbulkan guratan-guratan urat di kepala kita. Memang tidak ada takaran yang pasti untuk menunjukkan seberapa sukses kita, atau seberapa sukses orang lain.
Kesuksesan tentu tidak akan tercapai, tanpa adanya kerja keras. Tentu ada harga yang harus dibayar untuk mencapai sebuah kesuksesan. Lantas adakah korelasi antara kesuksesan itu sendiri dengan kepribadian seseorang? Banyak buku dan tulisan-tulisan yang mengidentifikasi kesuksesan seseorang dari kepribadian dan perilakunya. Misalnya saja, hal sepele yang cukup sering kita temui adalah ketika berjabat tangan dengan seorang pengusaha, pengusaha itu akan menjabat tangan anda yang notabene rekan kerjanya dengan jabatan yang kuat, menunjukkan adanya kemantapan hati, kepercayaan diri yang tinggi dan keyakinan yang besar. Berbeda dengan orang-orang yang ketika berjabatan tangan, seakan-akan malu, ragu atau mungkin sungkan. Berjabatan tangan memiliki pengertian "saling" menjabat, bukannya memberikan tangan kita untuk "dijabat". Begitu pula dengan orang yang cara berjalannya tegak, menunjukkan bahwa orang tersebut berkeyakinan diri tinggi. Seringkali hal-hal kecil seperti itu memang dapat menunjukkan bagaimana karakter seseorang. Seorang psikolog tentunya jauh lebih paham, bila dibandingkan dengan saya yang hanya melihat fakta di lapangan.
Hasil survey Stanford Research Institute, Harvard University & Carnegie Foundation menyimpulkan bahwa 15% orang yang sukses dalam hidupnya ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan ketrampilan mengenai profesi. Lantas bagaimana dengan yang 85%? Disebutkan bahwa 85% lainnya sukses karena memiliki kepribadian dan cara hidup yang benar. Hal tersebut menunjukkan bahwa ternyata prestasi seseorang tidak ditentukan oleh faktor pendidikan formal apakah seseorang tersebut sarjana atau bukan sarjana,bukan oleh faktor jenis kelamin apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan, bukan oleh ras apakah mereka itu kulit putih atau kulit hitam, dan juga bukan oleh umur apakah diatas 40 tahun atau dibawah 40 tahun. Prestasi seseorang ditentukan oleh kepribadiannya! Bahkan disimpulkan juga bakat yang dibawa sejak lahir hanya berperan sebagai faktor imbuhan saja bagi prestasi seseorang.
Berbicara mengenai kepribadian tentu tidak akan terlepas dari yang namanya SOFT SKILLS. Soft skills adalah seperangkat kemampuan yang mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Soft skills memuat komunikasi efektif, berpikir kreatif dan kritis, membangun tim, serta kemampuan lainnya yang terkait kapasitas kepribadian individu. Sukses di dalam sebuah pekerjaan tidak hanya bergantung kepada rasio dan logika individu tetapi juga kapasitas kemanusiannya. Kepribadian yang dimiliki manusia dapat diibaratkan sebagai bawang merah. Ketika kita mengupas kulit bawang merah, maka kita akan menemukan bagian kulit yg lain,demikian seterusnya. Artinya kepribadian sebagai potensi sesungguhnya sangat banyak dimiliki oleh seseorang. Namun demikian hal tersebut tidaklah tampak, yang tampak atau ditampilkan saat ini adalah sebagian saja dari kepribadian yang dimilikinya. Pengumpamaan bawang merah tersebut lebih menunjukkan bahwa kepribadian dapat dipelajari dan digali. "Attitude is learned, not inherited!" Tidak ada yang namanya bakat menjadi orang baik,bakat menjadi sopan,bakat menjadi rendah hati, kesemuanya adalah proses yang harus ditempuh dan dijalani.
Banyak ditemukan hasil penelitian yang menunjukkan kesuksesan individu dalam bekerja dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian individu. Setelah membaca kalimat di atas, tentu akan segera terngiang di kepala kita 'lantas, karakteristik kepribadian macam apa yang dikatakan dapat membawa kita kepada suatu keberhasilan dan kesuksesan?' Dari banyak teori kepribadian, dapat disimpulkan bahwa orang yang sukses adalah orang yang mempunyai ketahanan Pribadi. Ketahanan pribadi ini ditunjukkan dengan karakter gigih, sistematis, pantang menyerah, motivasi tinggi dan tahan bekerja di bawah tekanan. Selanjutnya, orang tersebut tentu adalah orang yang ramah. Hal tersebut ditandai dengan keterampilan membina hubungan dan komunikasi yang efektif, pandai bergaul, bekerja sama, aktif, mengutamakan kerjasama, atraktif dan asertif , dapat dipercaya dan sopan.

Yang ketiga, memiliki kerendahan hati. Kerendahan hati ditunjukkan dengan sikap yang tidak mau menunjukkan kelebihannya, mudah simpati,hangat dan tidak menyombongkan diri. Kemudian orang itu sudah barang tentu memiliki emosi yang stabil, pembawaan yang tenang dan tidak mudah terombang-ambing. Hal yang terakhir ialah orang tersebut harus memiliki pikiran yang terbuka terhadap pengalaman (openess). Individu dengan tipe ini memiliki daya piker yang imajinatif, kreatif, kritis, menyukai tantangan, anti kemapanan dan memiliki rasa
ingin tahu yang besar.

Dari kelima hal di atas, tidak ada yang lebih penting dari yang lainnya. Kesemuanya memiliki porsi masing-masing. Misalnya keramahan lebih tepat pada pekerjaan yang membutuhkan sifat kooperatif, tipe ramah lebih tepat pada posisi yang membutuhkan hubungan interpersonal (contoh: front office)

Hidup Dari musik??





     Dewasa ini terjadi ledakan yang sangat dignifikan di industry musik. Fenomena anak band sudah bukan sesuatu hal yang tabu di jaman ini. Perkembangan musik,yang notabene adalah bahasa universal layaknya ilmu matematika sebagai bahasa dari segala ilmu pengetahuan. Musik sebagai bahasa universal pemersatu bangsa-bangsa, ya kalimat itu sudah tidak asing lagi di telinga kita. musikIndonesia menjadi salah satu negara yang memiliki perkembangan dalam bidang musik pada era ini. Bahkan,jika berbicara tentang keanekaragaman jenis musik yang ada di Indonesia,hal itu tentu tidak terlepas dari jumlah suku bangsa yang dimiliki Indonesia. Tiap-tiap suku tersebut mempunyai berbagai jenis alat-alat musik tradisional. Perpaduan musik modern dengan menggunakan alat musik tradisional menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa bulan yang lalu,Indonesia mengirimkan wakilnya untuk ikut serta dalam acara bertajuk festival musik yang diadakan di alun-alun kota Kairo,Mesir. Indonesia mempersembahkan sajian musik rock yang dikolaborasikan dengan alat musik angklung. Megahnya musik rock dibalut dalam kesederhanaan alunan angklung memberikan keeksotisan tersendiri. Musik memang sesuatu yang mendunia, modernisasi pada aliran-aliran musik yang ada mengundang decak kagum yang tiada habisnya. Namun, sesuatu yang tradisional selalu mempunyai cita rasa yang lebih dan tiada bandingnya. Indonesia sendiri mempunyai musik dangdut yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, musik dengan aura khas melayu diiringi dentuman kendang yang membuat orang ingin bergoyang. Musik dangdut cukup fenomenal, dianggap murahan di negeri sendiri, tetapi mendapat apresiasi di dunia internasional. Hal tersebut menjadi sebuah gambaran bahwa bangsa Indonesia sudah mempunyai ikatan yang cukup kuat dengan yang namanya musik. Belum lagi, jika kita mengamati bersama bahwa begitu banyaknya juga ajang-ajang pencarian bakat yang sudah barang tentu melibatkan yang namanya musik. Ajang-ajang pencarian bakat begitu menggemparkan, menjadikan seseorang sebagai idola di Indonesia. Pesatnya perkembangan musik di Indonesialah yang menjadi salah satu pendorong diadakannya ajang-ajang pencarian bakat. Dimulai dari ajang pencarian bakat menyanyi maupun festival band. Dunia musik hampir selalu dikaitkan dengan dunia hiburan. Menjadi pribadi yang dikenal masyarakat luas, mempunyai banyak penggemar, dan diagung-agungkan tentu menjadi keinginan bagi setiap orang. Sama halnya dengan penyanyi atau grup band yang sudah terkenal, mereka begitu dipuja, menjadi panutan bahkan tak jarang para penggemarnya berteriak histeris seakan-akan bertemu 'Tuhan' nya ketika melihat mereka. Ajang pencarian bakat seperti itu sebenarnya masih menjadi pro dan kontra di kalangan artis profesional. Menjadi bintang hanya dalam waktu sekejap hanyalah seperti buah yang matang dipaksa. Terbukti dari banyaknya jebolan dari ajang-ajang tersebut yang menghilang begitu saja dan tak terdengar lagi namanya. Kebanyakan dari mereka kurang memiliki mental berjuang, sehingga kurang tegar dalam menghadapi setiap benturan yang terjadi dalam dunia hiburan. Dengan tiba-tiba menjadi orang yang dipuja seringkali juga membuat orang menjadi lupa daratan dan tidak jarang justru menjadi rusak hidupnya karena segala kemewahan yang ditawarkan dalam dunia hiburan itu sendiri.

Bagi sebagian orang, ajang pencarian bakat seperti itu memang menjadi sesuatu yang dianggap buruk, tetapi ya seperti itulah dunia hiburan yang intinya adalah menghibur. Ketika masyarakat luas merasa terhibur dan rating acara pencarian bakat tersebut di televisi tinggi, semuanya menjadi sah saja. Tidak ada yang dapat memungkiri hal tersebut. Namun, dunia musik tidak hanya melulu mengenai ketenaran, kesuksesan, kelimpahan, dipuja dan menjadi terkenal. Sama sekali tidak. Ketika suatu karya yang tidak tersentuh sama sekalipun,itu tetaplah sebuah seni, tidak berubah dan tidak akan pernah berubah.


Musik itu sendiri sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Aristoteles, seorang filsuf Yunani termasyur mendeskripsikan bahwa musik mempunyai kemampuan untuk mendamaikan hati gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Dari ide itu juga, maka setiap negara mempunyai lagu kebangsaannya masing-masing.


Lantas bagaimana pandangan orang-orang abad ini bagi 'seseorang' yang berkarya dalam industry musik? Jika kita mundur ke 100 tahun lalu, di Indonesia khususnya, hidup di dunia musik seakan-akan menjadi sesuatu yang hina, yang tidak dapat diandalkan sebagai suatu mata pencaharian. Seseorang yang mempunyai jiwa seni, khususnya musik dicap sebagai orang-orang yang tidak punya masa depan, susah jodoh dan dibenci para mertua. Memasuki tahun millennium hingga saat ini, ketika millennium telah menginjakkan kakinya di tahun yang ke 10, industry musik di Indonesia berkembang sangat pesat, namun yang menyedihkan ialah di era yang telah begitu modern pun, tidak sedikit orang-orang yang berpandangan demikian. Apa salahnya orang mempunyai pikiran untuk mengambil keputusan dan menjejakkan langkah hidupnya dalam dunia musik? Dimana letak kesalahan orang yang berpikir untuk tidak ingin bekerja pada orang lain, melainkan bekerja pada bidang yang dicintainya? Toh mereka sama-sama bekerja. Semua itu bukan perkara uang, bukan pula kehormatan yang diperoleh layaknya seorang pekerja yang baru saja naik jabatan, tetapi sesuatu yang benar-benar dicintai untuk dilakukan, karena pada umumnya apabila kita melakukan sesuatu yang paling kita sukai, walaupun seberat apapun itu, semuanya menjadi terasa ringan sebab kita enjoy dalam melakukannya. Walaupun, memang tidak semua orang berpikir seperti itu. Setiap orang mempunyai bakat dan kesenangannya masing-masing. Bahkan suatu lembaga psikolog di ibukota menawarkan suatu program psikologi khusus sejak anak berusia dini. Seorang anak akan masuk ke dalam suatu ruangan kelas yang di dalamnya terdapat alat musik, mobil-mobilan, komputer dan lain sebagainya. Mainan mobil-mobilan yang berkaitan erat dengan dunia mesin, komputer yang tentunya berhubungan dengan IT, atau bahkan alat musik yang sudah barang tentu berhubungan dengan dunia seni musik. Dengan mengamati kemana anak itu akan bergerak dan memilih benda apa yang menjadi perhatiannya, orang tua dapat mengambil kesimpulan bahwa anak tersebut mempunyai perhatian lebih terhadap benda yang dipilihnya tersebut. Hal tersebut juga mengindikasikan bahwa anak tersebut akan berkembang menjadi seseorang yang hebat dalam bidangnya apabila sejak dini diarahkan untuk menekuni apa yang dipilihnya tersebut. Orang tua yang bijak tentu akan mengarahkan dan mengasah dengan tajam bakat anaknya. Memberi dukungan hingga batas akhir yang dia mampu, member dorongan agar apa yang dipilih dan dilakukan anaknya tersebut tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Sesuatu yang biasa akan menjadi luar biasa ketika ada tempaan dan asahan, sama seperti emas murni yang hanya dapat diperoleh setelah dipanaskan beribu-ribu derajat panasnya.


Dunia musik memang begitu luasnya, baik dari segi profesi yang ada di dalamnya maupun genre-nya. Profesi di bidang musik beraneka ragam, dimulai dari menjadi penulis lagu untuk sebuah film, aransemen lagu untuk album, membentuk band, membuka toko alat-alat musik, studio musik, ataupun penjual kaset. Tidak ada yang salah dari sederetan pekerjaan tersebut. Pekerjaan tersebut tidak melanggar hukum ataupun norma manapun, kecuali tukang bajak kaset yang sering kita temui di alun-alun kota. Maraknya fenomena rental studio musik menjadi salah satu trend di kalangan anak muda yang tentunya memberikan kemudahan bagi mereka yang ingin mengasah bakatnya bermain musik, tanpa harus membeli dan memiliki alat musik yang notabene harganya cukup mahal. Rental-rental studio musik itu tentu punya andil tersendiri bagi lahirnya musisi-musisi dalam negeri. Mendirikan sebuah studio musik untuk disewakan tentu memerlukan modal yang tidak sedikit, belum lagi alat-alat musiknya berikut sound system, dan pembuatan ruangan kedap suara. Bagaimana dengan yang tidak mempunyai modal besar untuk membuat usaha semacam itu? Menjadi penjaga sebuah studio musik merupakan salah satu alternative bagi yang kurang beruntung dalam masalah modal. Menjaga sebuah studio rental milik orang lain, seperti yang dilakukan oleh Dimas (bukan nama sebenarnya). Pekerjaan itulah yang dapat diandalkannya untuk menghidupi keluarga. Apakah hidupnya kekurangan? Tidak. Seorang lulusan sma ini bukan hanya menjadi penjaga sebuah studio rental, tetapi dia juga memiliki keahlian khusus. Kecintaannya terhadap musik membuat dia gigih berjuang, keterbatasan biaya tidak menjadi halangan untuknya. Mengikuti sekolah mixing audio via internet menjadi salah satu pilihan. Hasilnya tidaklah nihil, dia seringkali diundang untuk mengikuti training gratis di Jakarta. Di jaman yang serba cepat ini, informasi begitu mudahnya untuk diperoleh. Hal itu tentu saja menjadi salah satu jalan tol bagi keberlangsungan hidupnya di dunia musik. Ketika segala sesuatu telah dipermudah seperti itu,hanya dibutuhkan niat yang kuat dan usaha maksimal untuk mencapai keberhasilan. Bukan hanya itu saja, lelaki berumur sekitar 30 an ini pun mempunyai talenta bermain musik. Informasi mengenai artis-artis ibukota yang memerlukan pengisi alunan strings untuk lagu-lagu mereka, dia peroleh melalui media internet yang memungkinkan dia untuk mengikutsertakan hasil karyanya. Tidak sedikit upah yang diperoleh jika berhasil memikat hati para biduan ibukota apabila karyanya disukai oleh mereka. Tak jarang dia diplot sebagai orang yang menambahkan nuansa string pada rekaman lagu-lagu mereka, begitu penjelasan dari Dimas. Hari demi hari dia habiskan di studio musik yang bukan miliknya itu. Merapikan, membersihkan studio sudah seperti membersihkan rumahnya sendiri. Kehidupan yang dijalani sungguh sederhana, sangat sederhana, namun penuh arti. Jika menurut pandangan sebagian orang, sukses mungkin saja diukur hanya berdasarkan berapa uang dimiliki, mobil apa yang dia kendarai, atau mungkin negeri mana saja yang telah dijelajahi. Namun ada sisi lain dari kehidupannya yang membuat dia puas dengan hidupnya saat ini. Hidupnya tidak mewah, namun juga tidak kekurangan, karena hidup berkecukupan bukan berarti berlebihan. Sungguh takjub saya dibuatnya, sepertinya benar-benar tidak ada kebosanan ataupun kejenuhan jika berbicara mengenai musik dengannya. Seakan-akan dia memang dilahirkan dari musik dan untuk musik. Musik, musik dan musik, segala sesuatu tentang hidupnya sepertinya memang selalu tentang musik. Musik sudah menjadi seperti sahabat karibnya sendiri, telinganya pun sudah benar-benar terlatih untuk mendengar nada-nada. Kesalahan nada sedikit saja dia mampu menangkapnya, layaknya anjing pelacak milik polisi yang sudah sangat terlatih dalam mengenali bau kejahatan. Senyumannya menunjukkan rasa kepuasan tersendiri setelah berhasil melakukan apa yang disukainya hingga tuntas. Terbukti dia mampu menafkahi keluarganya dari hidup dan kecintaannya akan dunia musik. Ketika ditanya sampai kapan dia akan bekerja di musik, dia hanya menjawab dengan tawa senyum. Menurutnya, musisi itu tidak pernah pensiun, selama masih suka dan mau berkarya itu berjalan terus. Musisi sama halnya dengan seorang petani di Indonesia, selama rakyat Indonesia makanan pokonya masih nasi, maka tidak ada kata pensiun baginya, sampai usia menutup mata. Kisah Dimas hanyalah segelintir cerita kehidupan anak manusia yang mengandalkan hidupnya dari musik.


Kaum muda seringkali hanya melihat kepada band-band nomor wahid yang memiliki jutaan penggemar dan banyak uang. Tanpa mereka sadari bahwa hidup dari musik bukan hanya masalah materi yang diperoleh, tetapi ada satu hal yang menjadi dasar yang paling utama. Ya, KEBEBASAN. Kebebasan untuk berekspresi, kebebasan untuk berkarya tanpa adanya batasan-batasan yang menjadi selubung dan membatasi setiap pergerakan dan terobosan yang hasilnya mungkin dapat menembus logika manusia. Musik is an Art, seni tidak dapat dibatasi, seni tidak dapat dikekang, just freedom! Kebebasan bukan berarti semaunya sendiri dan acak-acakan. Kebebasan yang benar, berkarya dengan suatu keteraturan, itulah nilai positif yang dapat dipetik. Semuanya itu tidaklah mudah, memerlukan perjuangan dan keinginan kuat untuk terus belajar, karena hidup adalah pembelajaran, ya belajar dan belajar lagi, itu adalah proses yang tidak akan pernah berhenti. Satu hal yang pasti, jangan pernah takut untuk hidup! Yakin, dan lakukan dengan serius apapun yang dirasa baik untuk dilakukan. Tidak ada satupun yang tau mengenai masa depan. Masa yang sangat jauh didepan yang masih akan terhalangi dengan kehidupan – kehidupan di masa sebelumnya. Tapi jika ada visi, pandangan yang jauh menerawang ke depan, niscaya tak ada yang mustahil. Karena hidup bukan ditentukan oleh apa kata orang lain, melainkan apa kata Tuhan untuk kehidupan kita. Lakukan saja yang menjadi bagian kita dengan sungguh-sungguh, maka semuanya itu akan menjadi suatu bonus bagi kita. Don't waste more time, make up your mind, choose your way!
Ketika masih banyak orang tua yang melarang anaknya untuk memilih langkah hidupnya dalam dunia musik, siapa yang salah? Orang tua kah? Atau justru anak itu? Bukan soal siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi bagaimana respon kita untuk mengerti bahwa hidup adalah pilihan. Man can plan,but let GOD do the rest.