Hari ini aku mendapatkan suatu pengertian yang lebih dalam lagi mengenai apa itu "Mengenal Tuhan". Setiap dari kita mungkin dapat mengatakan "aku kenal Tuhan", pertanyaannya kenalkah Tuhan dengan saudara?? Lantas apa tolak ukur yang dapat menunjukkan pengenalan itu sendiri?? Seperti apa orang yang dikatakan mengenal Tuhan? Menilik dari kata 'mengenal' di dalamnya tentu saja ada yang namanya 'interaksi'. Bagaimana mungkin kita mengenal seseorang jika kita tidak pernah berinteraksi dengan org tsb? Interaksi, kontak langsung dan komunikasi dibutuhkan untuk menjalin sebuah hubungan untuk mencapai tahap 'mengenal' itu sendiri. Bagaimana cara kita melakukan ketiga hal di atas (interaksi;kontak;komunikasi) akan menentukan seberapa 'mengenal' nya kita terhadap pribadi seseorang. Dalam hal ini kita dapat ambil contoh sebuah pernikahan, seseorang yang mau memasuki pelaminan tentu sudah mengenal betul pasangannya, mungkin hanya pada jaman siti nurbaya (*perjodohan) yang tidak terjadi proses mengenal dengan baik.
Kembali ke pengenalan akan Tuhan, kita membutuhkan interaksi secara langsung Tuhan. Melalui apa? ya, benar, DOA. tapi doa yang seperti apa?? Idealnya sebuah hubungan adalah ketika hubungan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Bayangkan bgmn perasaan Tuhan kalau kita datang hanya dengan segala keluhan-keluhan kita, atau hanya waktu membutuhkan sesuatu?? TIDAK, bukan yang seperti itu yang Tuhan mau, Untuk mencapai kata 'mengenal' dibutuhkan interaksi yang terus menerus, bkn hanya seminggu sekali, sebulan sekali, atau parahnya lagi setahun sekali seperti waktu natal :D. Interaksi yang terus menerus, setiap hari, kita tentu perlu menyediakan waktu. Seringkali banyak org berkata, "gak ada waktu utk berdoa, sy terlalu sibuk, kerjaan saya banyak'', setelah dipikir2, cukup mengherankan, karena mungkin mereka tanpa sadar menggunakan waktunya setengah jam sehari untuk menonton televisi, mnggunakan waktunya 1 jam sehari untuk sekedar chatting dgn teman, 1 jam sehari untuk browsing hal2 yang sebenrnya kurang penting. Lantas knp tidak gunakan itu untuk berinteraksi dengan Tuhan? Kalau memang itu menjadi suatu kesukaran, bgmn solusinya??
Salah satu solusinya ialah, kita harus dapat mengambil komitmen untuk mau dan berusaha menjadikan Tuhan sebagai PRIORITAS dalam hidup. Aku ingat waktu saya menjadikan olahraga sebagai prioritas, setiap hari saya mengambil komitmen HARUS jogging, +berenang 2 kali seminggu, +futsal 1 kali seminggu, secara terus menerus kulakukan, dan ternyata aku bisa. Selama belum ada gempa bumi dan hujan badai, gangguan2 yg masih sepele bisa kok saya abaikan. Jadi tindakan pertama yang bisa kita lakukan bersama ialah menjadikan Tuhan sebagai PRIORITAS. Interaksi,kontak, dan komunikasi yang terus menerus tadi akan menumbuhkan yang namanya "KASIH". Sama hal nya seperti pepatah jawa yang mngatakan "Trisno jalarane seko kulino" yg artinya cinta atau kasih itu datang karena terbiasa. 'Terbiasa' disitu maksudnya terus menerus. Proses interaksi,kontak,komunikasi yang terus menerus menimbulkan kasih. Ketika kita sudah sampai pada tahap itu, maka interaksi dalam proses mengenal itu menjadi suatu kebutuhan buat kita. Sama halnya seperti 2 insan yang sedang memadu kasih, mereka bertemu setiap hari, komunikasi setiap hari, baru ketemu eh sampai rumah udah telpon lagi, kita yang melihatnya mungkin itu suatu hal yang berlebihan. Tapi bagi mereka?? kadang sempet bertnya2 ''apa gak bosen kygitu terus?'' Nyatanya jawabannya tidak. Itulah 'kasih', bahkan mungkin waktu mereka bertemu, tidak perlu saling berbicara banyak, hanya saling menatap dan senyum2 sendiri, rasanya itu sudah membuat mereka puas dan lega. (*yg dimaksudkan bkn penulis,penulis jomblo kok :p)
Hal ke-2 yang tidak kalah pentingnya ialah DISIPLIN. Disiplin merupakan tools untuk menjaga PRIORITAS tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mendisiplinkan diri untuk terus menerus berinteraksi dengan Tuhan dalam proses pengenalan akan Tuhan, akan membuat kita tetap pada trek yang benar. Dalam Kejadian 5 ayatnya yg ke 21-24 dikatakan bahwa Henokh bergaul karib dengan Allah semasa hidupnya. Dapat kita cermati pada beberapa pasal sebelumnnya, bahwa pada masa itu manusia mengalami krisis "pengenalan" akan Tuhan. Hanya Henokh yang disebutkan "bergaul dengan Allah'. Mungkin Henokh bukan dicatat sebagai orang yang hebat pada jamannya, dia bkn pembuat mujizat, dia bukan penyebar injil, tapi namanya tercatat sebagai orang yang "bergaul dengan Allah", dan Tuhan senang akan hal itu, karena pengenalan akan Tuhan jauh lebih berharga daripada korban sembelihan.
Saya mau belajar dari kisah Henokh, mungkin saya gbs jadi orang hebat yang dikenal bnyak orang, gbs jadi org tersukses, tapi setidaknya saat tiba waktunya, Tuhan berkata "ya kamu anakKu". Itu jauh lebih indah dari sekedar kesuksesan hidup. Pengenalan akan Dia melebihi apapun, aku boleh kehilangan apapun juga dalam hidup, asalkan aku hidup terus bersama-sama dengan Dia. Amin!
Dahsyat brow... dan jgn menghindari persekutuan yakkk... (*tepatnya jgn spt aku... hehe)
BalasHapus